Tak Perlu Takut, Ini Kiat Orang Tua Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Bersilaturahmi dan Liburan Saat Lebaran

Tak Perlu Takut, Ini Kiat Orang Tua Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Bersilaturahmi dan Liburan Saat Lebaran

Jakarta, Ditjen Vokasi PKPLK - Perayaan Hari Raya Idulfitri biasanya identik dengan silaturahmi bersama keluarga besar. Selain berkumpul bersama keluarga besar, momen Idulfitri juga biasanya dimanfaatkan sebagai waktu berlibur bersama keluarga dengan mengunjungi tempat-tempat wisata.


Kesempatan berkumpul dan liburan Idulfitri ini mesti dimanfaatkan oleh anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk bersosialisasi dan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Namun, terkadang orang tua justru merasa enggan untuk mengajak anak ABK mereka berkumpul bersama keluarga besar atau berlibur ke suatu tempat dengan berbagai alasan, mulai dari malu hingga kerepotan saat harus membawa anak berkebutuhan khusus berlibur. Lantas, apa yang sebenarnya harus dilakukan para orang tua agar momentum Idulfitri dan liburan ini dapat memberikan dampak manfaat bagi para ABK?


Rachel Siloam, mahasiswa difabel yang mendalami ilmu parenting sekaligus penulis buku "Keajaiban Ada Pada Ibu", mengatakan bahwa orang tua tidak perlu takut untuk mengajak anak ABK mereka bersilaturahmi dan berkumpul bersama keluarga besar.


"Kadang orang tua memang khawatir untuk mengekspos anaknya di keluarga besar. Orang tua biasanya khawatir apakah nanti anak saya diterima atau tidak di keluarga besar dan berbagai ketakutan lainnya," kata Rachel yang juga mengasuh rubrik "Kita Setara" di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. 



Berdasarkan pengalamannya, menurut Rachel, orang tua dengan anak ABK tidak perlu takut terkait penerimaan keluarga besar terhadap anaknya. Akan tetapi, orang tua juga harus mempersiapkan diri, khususnya mempersiapkan si anak. Persiapan yang dilakukan terkait dengan bagaimana sikap yang harus ditampilkan oleh anak saat bertemu dan berbaur dengan keluarga besar. 


"Kita harus bisa menunjukkan aura positif dan percaya diri untuk memperkenalkan dan menunjukkan anak kita," ujar Rachel yang juga memandu sesi konsultasi parenting melalui media sosialnya. 


Orang tua, lanjut Rachel, tidak perlu ragu untuk menunjukkan pencapaian-pencapaian yang dilakukan oleh putra/putri ABK mereka. Menurutnya, tidak masalah jika pencapaian-pencapaian tersebut mungkin akan terkesan biasa. Namun, setidaknya berbagai capaian positif tersebut menggambarkan aura positif dan percaya diri yang juga akan berdampak pada kepercayaan diri anak untuk berkumpul dan berbaur bersama keluarga besar.


Sementara itu, terkait dengan libur Idulfitri, kesempatan tersebut juga menjadi waktu terbaik untuk mengekspos anak berkebutuhan khusus dengan dunia sosial yang lebih luas. Agar anak berkebutuhan khusus nyaman saat berlibur, salah satu tip yang bisa dilakukan oleh orang tua, menurut Rachel, adalah dengan membuat social story sebelum berlibur bersama. 


"Jadi, sebelum liburan, anak berkebutuhan khusus sudah diberikan gambaran terlebih dahulu terkait aktivitas apa yang akan dilakukan selama liburan, termasuk tempat untuk liburan seperti apa juga bisa dijelaskan sebelumnya," ujar Rachel. 


Sejak dari awal sebelum berangkat, lanjut Rachel, anak berkebutuhan khusus ini sudah harus dilibatkan dalam kegiatan berlibur ini. Misalnya adalah terkait dengan kebutuhan apa yang diperlukan anak agar nyaman selama liburan serta apa yang harus dilakukan saat si anak merasa tidak nyaman.


Sebagai informasi, Rachel Siloam adalah penyitas RPO (Retinopathy of Prematurity), yang membuatnya  mengalami kebutaan sejak kecil. Rachel baru mengerti dan menyadari kondisinya saat usia 4 tahun. Sejak kecil sang ibunda, Sri Mukti Handayani, tidak pernah menutupi kondisi Rachel dan selalu mendampingi serta memberikan dukungan. Hingga kini Rachel dapat mengejar mimpi walau memiliki keterbatasan. Ia merupakan penulis buku "Keajaiban Itu adalah Ibu", sebuah buku yang dipersembahkan untuk ibunya. Buku ini bersisi pengalaman dan perjalan hidup Rachel sebagai tunanetra. Uniknya buku ini juga bisa menjadi panduan bagi orang tua dalam mendidik anak berkebutuhan khusus. Rachel juga aktif dalam dunia public speaking dengan menjadi penyiar radio dan mengasuh acara Kita Setara di RRI Jakarta. Ia juga memiliki channel khusus untuk membuka konsultasi parenting serta menjadi salah satu konten kreator. (Nan/Cecep/Dani)