Pendidikan Vokasi Menangkap Peluang Pekerja Migran Indonesia

Pendidikan Vokasi Menangkap Peluang Pekerja Migran Indonesia

Jakarta, Ditjen Vokasi PKLK - Migrasi pekerja lintas negara menjadi hal yang lumrah saat ini. Di Indonesia, praktik pekerja migran sendiri sejatinya sudah dimulai sejak abad ke-19, di mana masyarakat pribumi banyak dikirim untuk bekerja di perkebunan di Suriname. Seiring perkembangan zaman, praktik pengiriman tenaga kerja tersebut dikenal sebagai pekerja migran Indonesia (PMI), tetapi dengan negara dan  bidang keterampilan yang kian beragam.


Dengan merujuk pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 20217 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, PMI adalah setiap warga negara

Indonesia yang akan, sedang, atau telah melakukan pekerjaan dengan menerima upah di luar wilayah Republik Indonesia. Laporan Bank Indonesia mengungkapkan bahwa ada sekitar 3,7 juta PMI di luar negeri pada tahun 2024. Sebagian besar mereka bekerja di sektor formal, yakni 50,11 persen, sisanya bekerja di sektor informal. 


Keberadaan PMI telah berperan penting dalam perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia melalui remitansi yang dikirimkan oleh para pekerja ke keluarga di daerah asal. Pada tahun 2023, Bank Indonesia mencatat remitansi yang dihasilkan para pekerja migran ini mencapai 14,217 miliar US dollar. 


Peluang Semakin Terbuka 


Kesempatan kerja bagi pekerja migran Indonesia kian terbuka, utamanya adalah negara-negara yang mengalami aging society, seperti Jepang, Taiwan, dan sebagainya. Taiwan telah memasuki kategori Aged Society, di mana lebih dari 14 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas. Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam populasi lansia yang akan berdampak pada kebutuhan tenaga kerja di negara tersebut, termasuk di bidang perawatan.


Kondisi serupa juga terjadi di Jepang. World Economic Forum pada tahun 2023 melaporkan bahwa 1 atau lebih dari 10 orang di Jepang berusia 80 tahun atau lebih, dan hampir sepertiga populasi Jepang berusia lebih dari 65 tahun (sekitar 36,23 juta penduduk). Permasalahan demografi tersebut berdampak ke pasar kerja di Jepang. Diprediksikan bahwa pada tahun 2040, Jepang akan mengalami penurunan tenaga kerja sebanyak 11 juta pekerja. 


Sementara itu, kebutuhan spa therapist di negara-negara Uni Emirat Arab (UEA) juga semakin meningkat seiring dengan peningkatan industri spa di kawasan tersebut. Selain itu, kebutuhan akan restaurant worker dan hospitality terus meningkat setiap tahunnya. 



Pendidikan Vokasi Fokus Mempersiapkan Lulusan Berdaya Saing Global


Sebagai institusi yang berperan dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan profesional, beragamnya tawaran pekerjaan di sejumlah negara tersebut menjadi peluang besar bagi satuan-satuan pendidikan vokasi, baik sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun lembaga kursus dan pelatihan (LKP). Salah satunya adalah seperti yang dilakukan oleh LKP Citra yang fokus pada pelatihan dan kursus bidang caregiver atau perawat lansia.


Sejak berdiri pada 2020, LKP yang terletak di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini secara konsisten terus melahirkan lulusan yang siap bekerja untuk mengisi pasar kerja caregiver di Jepang dan Taiwan.  


“Kebutuhannya sangat tinggi. 100 persen lulusan kami bisa terserap meskipun dengan jadwal pemberangkatan yang tidak berbarengan, tapi sebelum lulus saja mereka sudah diminta industri di Taiwan dan Jepang,” kata pemimpin LKP Citra, Siti Komaryatun.


Sebagai mantan caregiver di Taiwan dan Jepang, Siti sangat memahami kebutuhan industri caregiver di kedua negara tersebut, termasuk kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan. Hal itulah yang membuat lulusannya laris manis.


Selain LKP Citra, SMKN 8 Semarang, Jawa Tengah juga memanfaatkan peluang kerja di luar negeri dengan menyiapkan tenaga caregiver profesional untuk dikirim ke sejumlah negara, termasuk Jepang. 


Kepala SMKN 8 Semarang, Almiati, mengatakan bahwa saat ini tercatat 29 alumninya bekerja sebagai caregiver di Jepang. Pihak sekolah bekerja sama dengan industri mitra untuk menempatkan para alumninya.


“Kami kerja sama dengan mitra industri diantaranya ada PT Kobamira, PT Wiwitan, dan Joycare yang membantu untuk penyerapan alumni kami di Jepang, termasuk menyiapkan berbagai persiapan sebelum berangkat seperti pelatihan bahasa Jepang oleh pihak Joycare misalnya,” kata Almiati. 


Menurut Almiati, sebagai SMK pelaksana program SMK Pusat Keunggulan untuk bidang pekerja migran, SMKN 8 Semarang memang fokus menyiapkan lulusannya sebagai caregiver, utamanya untuk di luar negeri. Melalui berbagai bantuan program dari pemerintah, SMKN 8 Semarang terus melengkapi berbagai sarana prasarana untuk menunjang kompetensi para siswanya. 


Sebagai bagian dari ruang praktik siswa (RPS), SMKN 8 Semarang memiliki Wolu Senior Hotel, yakni sebuah pusat layanan berupa hotel yang ditujukan untuk para lansia. Di hotel tersebut, para siswa secara bergantian melakukan kegiatan praktik langsung untuk menangani para lansia yang dititipkan keluarganya di sekolah tersebut.  


Ruang praktik siswa tidak hanya berupa hotel untuk lansia saja, tetapi juga ruang praktik yang dirancang dengan sangat nyaman dengan peralatan-peralatan yang sudah sesuai standar industri. Dengan demikian, para lulusan nantinya tidak lagi canggung atau bingung saat terjun ke lapangan. 


Tingginya peluang kerja di Jepang juga dimanfaatkan oleh SMK PGRI 1 Mejayan, Madiun, Jawa Timur. Saat ini tercatat lebih dari 100 alumni SMK tersebut telah bekerja di sejumlah industri di Jepang melalui kerja sama dengan industri di sana, di antaranya adalah manufaktur,  pertanian, perikanan, dan sebagainya.


“Kontrak lima tahun dan langsung bisa diperpanjang dengan membawa istri/suami atau kembali ke Indonesia dan mereka siap menciptakan lapang kerja bagi masyarakat sekitarnya,” kata Kepala SMK PGRI Mejayan, Sampun Hadam. 


Saat ini, menurut Sampun, pihaknya mencoba mengusulkan perlunya program mini laboratorium vokasi yg sesuai dengan lapangan kerja di Jepang. Dengan demikian, para lulusan sudah sesuai dengan perusahaan-perusahaan di Jepang.