Paling Banyak Dicari, Pembuatan “Storining” Produk Unggulan SMK Restumuning Libatkan Petani Lokal

Paling Banyak Dicari, Pembuatan “Storining” Produk Unggulan SMK Restumuning Libatkan Petani Lokal

Tabanan, Ditjen Vokasi – Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mendidik siswa agar lebih kreatif, berjiwa wirausaha, dan peduli lingkungan. Salah satunya adalah melalui kegiatan pembelajaran berbasis produk atau teaching factory (Tefa).


SMK Restumuning, Tabanan, Bali menjadi salah satu SMK yang konsen dengan pendidikan berbasis ramah lingkungan. Melalui kegiatan pembelajaran, siswa dididik agar bisa berinovatif tanpa mengabaikan sekitarnya.


Berbagai produk pun dihasilkan oleh siswa SMK Restumuning, mulai dari produk jasa hingga produk barang jadi. Salah satu produk yang dihasilkan dari Tefa SMK Restumuning adalah selai stroberi yang diberi merk Storining. Storining merupakan singkatan selai stroberi SMK Restumuning. Produk ini merupakan produk unggulan dari SMK Restumuning yang paling banyak dicari oleh konsumen.


Selai stroberi buatan siswa SMK Restumuning berbeda dari selai yang beredar di pasaran pada umumnya. Storining dibuat dari bahan-bahan alam dan tidak ada campuran bahan pengawet. Selain itu, stroberi yang digunakan pun berbeda. SMK Restumuning menggunakan stroberi beku sebagai bahan utamanya, baru kemudian ditambah gula murni dan perasan jeruk lemon.


Arya Ngurah, siswa Jurusan Tata Boga, SMK Restumuning, menyampaikan bahwa salah satu alasan penggunaan stroberi beku adalah untuk menghemat waktu dan air. 


“Jadi, buah stroberi yang telah dicuci kita masukkan dalam mesin pembeku. Setelah stroberi benar-benar membeku, kita ambil dan kita langsung proses saja untuk pembuatan selai. Lebih simpel dan tidak perlu menambahkan air lagi karena stroberi beku jika sudah dipanaskan juga akan menghasilkan cairan sendiri,” ucap Ngurah.


Pembuatan selai ini tidak memakan banyak waktu karena dalam memasak stroberi hingga menjadi selai hanya memakan waktu maksimal 30 menit. Selai stroberi SMK Restumuning memiliki cita rasa asam manis yang khas. Rasa asam dihasilkan dari stroberi dan perasan jeruk lemon. 


Setelah selai stroberi selesai dibuat, selai-selai ini dikemas dalam toples kaca. Selai stroberi SMK Restumuning kemudian dipasarkan ke masyarakat sekitar, restoran, dan kafe.


“Di sekolah kami ada pelajaran wirausaha. Nah, salah satu produk yang kita jual adalah Storining ini. Satu toples selai stroberi kita jual 30 ribu. Kami memastikan produk ini fresh karena kami memproduksinya setiap ada pesanan masuk,” ucap Ngurah.


Ngurah menceritakan bahwa kegiatan produksi ini membuatnya lebih bisa berinovasi dan mengkreasikan ide-idenya. Tak hanya dituntut jago meracik produk, dalam kegiatan ini juga siswa SMK Restumuning diajari tentang marketing yang baik, bagaimana menjaga kualitas, mengemas produk agar tampilannya menarik, dan cara menawarkan produk kepada calon konsumen.


“Sangat bersyukur di sekolah ada kegiatan ini karena apa yah kami jadi tahu bagaimana keadaan pasar yang sebenarnya. Kami tidak melulu belajar untuk mengasah kompetensi saja, tetapi juga belajar berwirausaha. Siapa tahu setelah nanti lulus kami memutuskan berwirausaha sehingga kami sudah tidak kaget lagi karena sudah ada bekalnya,” ucap Ngurah.


Melibatkan Petani Lokal


Seperti yang sudah diceritakan di atas bahwa bahan yang digunakan adalah 100 persen bahan alami. Stroberi yang dipakai oleh siswa SMK Restumuning berasal dari perkebunan warga sekitar sekolah. 


Sebagai informasi daerah di sekitar SMK Restumuning khususnya daerah Bedugul merupakan penghasil stroberi terbesar di Bali. Hal ini dikarenakan daerah tersebut merupakan dataran tinggi sehingga banyak dijumpai perkebunan stroberi. Stroberi ini ditanam oleh warga sekitar untuk dijual. Melimpahnya bahan baku ini dijadikan sebagai peluang bagi SMK Restumuning untuk mengolahnya menjadi produk baru dan bernilai jual tinggi.


“Stroberi di daerah kami itu sangat melimpah. Nah, ini kita manfaatkan karena bahan baku sudah tersedia atau kasarannya kita tidak kesulitan mencari bahan dasarnya lah. Stroberi kita beli dari penduduk sekitar yang memiliki kebun stroberi. Istilahnya kita ikut melarisi daripada terbuang sia-sia atau busuk,” ucap Galih Angkasa, Wakil Kepala Humas, SMK Restumuning.


Produksi selai ini sangat membantu petani sekitar. Dengan adanya kerja sama ini, petani tidak perlu bingung dan khawatir dengan penjualan hasil panennya karena sudah pasti dibeli oleh SMK Restumuning.


“Kerja sama yang sangat menguntungkan untuk kedua belah pihak. Bagi sekolah, kami bisa mendapatkan buah lokal untuk produksi dan bagi petani mereka bisa mendapatkan uang langsung tanpa lewat perantara sehingga perekonomian petani stroberi bisa tetap berjalan. Ini merupakan salah satu wujud SMK Restumuning dalam mengimplementasikan pendidikan untuk mewujudkan kehidupan berkelanjutan,” ucap Galih. 


Sementara itu, salah satu petani stroberi, Desak Putri, menyampaikan bahwa dengan adanya kerja sama turut membantunya dalam menghabiskan hasil panennya.


“Kita jadi pasti ya karena kan kalau panen pasti diambil sama SMK Restumuning. Saya jadi ngga bingung untuk jual ke mana. Penghasilannya pun jadi tetap ya, artinya bisa muter terus lah uangnya,” tutur Putri. (Aya/Cecep)