Jadi Sarana Baca Tulis untuk Tunanetra, Seperti Ini Sejarah Penemuan Huruf Braille
Jakarta, Ditjen Vokasi PKLK - Huruf Braille selama ini dikenal sebagai sebagai sarana baca tulis yang digunakan oleh tunanetra di seluruh dunia. Penemuan huruf ini tidak lepas dari sosok Louis Braille, warga asal Prancis lebih dari 1,5 abad lalu.
Braille tidak lahir sebagai tunanetra. Kebutaan yang dialaminya disebabkan karena kecelakaan saat ia sedang bermain. Saat itu ia baru berusia 3 tahun ketika matanya tanpa sengaja terkena pisau yang membuatnya mengalami kebutaan.
Pada usia 10 tahun, Braille yang lahir pada 4 Januari 1809 ini dikirim ke Institution Royale de Jeunes Aveugles di Paris. Di sekolah itu 100 tunanetra bersekolah di bawah sistem boarding.
Sistem pendidikan di sekolah ini didasarkan pada pelajaran membaca huruf-huruf alfabet timbul dengan menggunakan indera peraba yang diciptakan oleh Valentine Hauy, guru penyandang tunanetra pertama. Tujuannya adalah agar para siswa tunanetra dapat membaca dengan mengenali huruf timbul dengan sentuhan. Sayangnya hasil dari penggunaan sistem pembelajaran ini tidak terlalu baik.
Penemuan huruf Braille berawal dari kunjungan Charles Barbier, seorang pensiunan kapten artileri dari tentara Napoleon, ke institut untuk mendemonstrasikan penemuannya tentang sistem kode yang digunakan oleh tentara untuk mengirim pesan satu sama lain dalam kegelapan total melalui sistem titik-titik yang mewakili suara yang lebih mudah dipahami dibanding sistem Hauy.
Akan tetapi, sistem baru itu tetap masih terlalu rumit bagi para siswa. Braille yang tertarik dengan sistem baru tersebut kemudian mencoba memperbaiki dan meningkatkan sistem tersebut.
Satu tahun kemudian, ia berhasil mengembangkan kodenya sendiri, hingga pada Oktober 1824, ketika Louis baru berusia 15 tahun, ia telah meningkatkan sistem kodenya sehingga bisa digunakan secara efektif.
Metode yang dikembangkan oleh Braille ini menggunakan kombinasi titik timbul yang mewakili huruf alfabet yang sebenarnya, bukan suara. Kode Braille menggunakan lebih sedikit titik sehingga membuatnya lebih mudah dipelajari. Dengan pola yang cukup kecil untuk muat di bawah satu ujung jari, membuat titik lebih cepat dibaca.
Huruf ini terdiri atas 6 titik dan 64 kemungkinan. Melalui metode tersebut, penyandang tunanetra dapat belajar mengeja dan membaca huruf yang sama dengan orang yang dapat melihat. Sistem Braille segera diterima oleh banyak siswa tunanetra lain di sekolah. Namun, sebagian besar guru yang dapat melihat, menolak untuk mempelajari bentuk tulisan Braille yang menurut mereka terlalu sulit untuk dipelajari.
Huruf Braille baru mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Prancis pada tahun 1854 atau dua tahun setelah kematian Braille. Empat tahun kemudian atau pada tahun 1858, Kongres Dunia untuk Tunanetra menjadikan Braille sebagai sistem standar membaca dan menulis di seluruh dunia. (Berbagai sumber/Nan/Dani)
sumber foto : freepik