Gagal Jadi PNS dan Buka Usaha Bakso, Alumnus Kursus Digital Marketing Jadi Pengusaha Lurik Sukses

Gagal Jadi PNS dan Buka Usaha Bakso, Alumnus Kursus Digital Marketing Jadi Pengusaha Lurik Sukses

Klaten, Ditjen Vokasi - Semua orang memiliki pasang surut dan momen jatuh bangun dalam meraih kesuksesan. Begitu pun dengan Anisa Yulia Andriyani, alumnus Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Kembar, Klaten, Jawa Tengah. Ia memiliki cerita panjang untuk menjadi pengusaha lurik yang sukses.


Saat itu, Anita bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Nyamannya hidup jika menjadi PNS, gaji teratur, dapat tunjangan, kebanggaan keluarga, dan memiliki jabatan serta dipandang baik oleh masyarakat memotivasinya untuk mendapatkan gelar tersebut. Namun, ternyata hidup membawanya menuju jalan yang berbeda.


“Waktu itu saya benar-benar berambisi menjadi PNS dan mengikuti alur seleksi CPNS. Semuanya sudah dilakukan, tetapi ternyata Allah berkehendak lain,” ungkap Anisa mengisahkan ceritanya. 


Dua kali ikut CPNS dan gagal membuat Anisa memutar haluan untuk menempuh jalur hidup yang lain. Berbekal usaha ibunya di bidang penggilingan daging sapi, ia pun membuka sebuah warung bakso. Selama 8 bulan, Anisa menekuni usaha warung bakso tersebut. Namun kemudian, ia jatuh sakit sehingga terpaksa menutup warung bakso tersebut.


“Usaha bakso lagi ramai-ramainya, tetapi saya harus pengobatan dan tak bisa mengelola usaha tersebut. Akhirnya saya tutup warung baksonya,” ujar Anisa.


Di saat mengisi waktu senggangnya dan masih dalam masa pengobatan, Anisa pun memutuskan untuk kursus komputer dengan bidang digital marketing. LKP Kembar menjadi tempat kursus yang dipilihnya untuk menuntut ilmu. 




Anisa percaya bahwa tidak ada kata terlambat dan tidak ada batasan usia untuk belajar. Ia pun sadar, bahwa untuk menjadi pengusaha ia harus memiliki ilmu di bidang pemasaran digital. Meskipun jarak antara rumahnya dengan tempat kursus cukup jauh, hal itu tidaklah menyurutkan semangat Anisa untuk mengemban ilmu.


Anisa menjelaskan, “Dari dulu saya pengen belajar hal baru. Bahkan, saya harus ke tempat kursus seorang diri menggunakan motor dengan jarak puluhan kilometer.” 


Setelah mengikuti program kelas reguler di LKP Kembar selama tiga bulan, Anisa pun lulus di tahun 2014. Mulai di tahun tersebut lah Anisa mengembangkan bisnis kain luriknya dengan pemasaran digital.


Titik Balik Hidup Anisa Menjadi Pengusaha Lurik


Kursus digital marketing mengubah hidup Anisa dengan signifikan. Jiwa wirausaha yang sudah ia miliki terdorong dan termotivasi dengan adanya ilmu tersebut. Selama kursus ia diajari membuat laman dan juga mengelola media sosial.


Anisa bercerita, saat praktik membuat laman, ia pun belum mengetahui produk apa yang akan dijual. Namun, saat penugasan ternyata ia tertarik menjual lurik karena saudaranya sering menggunakan lurik.


“Waktu itu benar-benar belum punya ide mau menjual produk apa. Secara kebetulan, kakak saya sering pakai lurik. Nah, saat itulah saya berinisiatif menjual kain lurik,” cerita Anisa.


Setelah itu, Anisa pun diperkenalkan dengan petenun dan mulai mengunggah lurik di laman dan media sosial. Sebagai pembelajaran berbasis proyek atau project based learning (PBL), Anisa pun berupaya untuk membuat konten media sosial yang menarik. Tanpa membutuhkan waktu lama, ternyata kain lurik yang ia jual memiliki banyak peminat. 


Pada awalnya ia hanya coba membuat laman dan mengunggah foto kain lurik. Lalu lama kelamaan banyak yang menghubunginya untuk membeli produk tersebut. 


“Dalam mengembangkan usaha saya pun jatuh bangun. Bahkan, laman saya pernah kena hack atau diretas,” tutur Anisa.


Laman yang dibuat Anisa yaitu www.anisashop.com terkena serangan peretas beberapa minggu sehingga tidak bisa diakses oleh pelanggan. Anisa pun langsung menghubungi teknisi dari LKP Kembar dan bisa menanggulangi masalah tersebut. Sampai kini, laman tersebut pun sudah bisa diakses kembali.


Dalam kurun waktu tiga bulan, Anisa pun bisa membalikkan modal Rp2 juta yang ia keluarkan di awal membangun usaha. 9 tahun ia mengembangkan bisnis, kini omzet yang diraihnya pun sudah puluhan juta. Bahkan, ia sudah mempunyai dua toko kain lurik di Klaten.


“Saya gunakan media sosial khususnya Instagram untuk menjaring pelanggan. Instagram @kain.tenun.lurik.batik sudah memiliki followers mencapai lebih dari 45 ribu,” jelas Anisa.


Dengan kualitas kain dan gencarnya media promosi tersebut, tak heran lurik Anisa terkenal di kalangan banyak orang. Banyak pejabat dan orang-orang terkenal pernah membeli kain lurik di toko Anisa. Tak main-main kain luriknya pun sering diimpor ke negara tetangga, yaitu Malaysia. 


Pendidikan vokasi yang memiliki nilai sosial pun tercermin dari cerita Anisa. Setelah kursus Anisa bisa memberdayakan orang-orang di sekitarnya untuk bekerja bersamanya, mulai dari penjaga toko, petenun, sampai dengan admin-admin media sosial. Dengan usahanya tersebut, ia bisa mengatasi pengangguran dan bermanfaat untuk orang-orang sekitar.


Tak Mau Berhenti Belajar


Setelah memperoleh kesuksesan, Anisa pun tak berhenti belajar. Baru-baru ini, ia pun telah melakukan kursus digital marketing kembali di LKP Kembar. Kali ini, ia mengajak suaminya untuk ikut bergabung dan mengikuti pembelajaran kursus.


Digital marketing ilmunya sangat luas dan berkembang secara terus menerus. Makanya, saya pun belajar kembali agar usaha saya tetap bertahan,” ungkap Anisa.


Menurut Anisa, lebih sulit adalah mempertahankan bisnis dibanding membangun bisnis. Maka dari itu, ia harus tetap up-to-date terkait perkembangan dunia digital. Melalui kursus tersebut, kini ia bisa mengetahui tren-tren kekinian dan bagaimana pembuatan konten di media sosial. Tidak hanya Instagram, tetapi yang sedang tren adalah menggunakan video melalui Tiktok. 


“Tidak hanya di Shopee, saat ini tim AnisaShop memang sedang menjual melalui Tiktok juga. Apalagi sekarang kan ada LiveTiktok. Itu jadi cara buat promosi juga,” ujar Anisa. 


Anisa merasa bahwa kehidupannya yang gagal menjadi PNS dan juga gagal usaha bakso justru memberikan peluang bagi dirinya untuk berwirausaha. Dengan kegagalan tersebutlah ia meningkatkan kompetensi melalui kursus di LKP Kembar yang mengantarkannya menjadi pengusaha kain lurik ternama di Klaten.


Tina Yuliani Ayuningsih selaku pemimpin LKP Kembar membuka dengan tangan terbuka semangat Anisa untuk belajar kembali. Menurut Tina, Anisa memiliki semangat belajar yang luar biasa.


Tina menjelaskan, “Ketika LKP Kembar mengadakan acara seminar/workshop, dia sering ikut karena orangnya senang belajar hal-hal baru.” 


Sebagai LKP dengan program digital marketing, LKP Kembar sudah menghadirkan ribuan alumni dari tahun 2011. Selain program tersebut, terdapat pula bidang keterampilan coding, office, desain grafis, dan teknisi komputer. Menurut Tina, LKP kembar pun akan terus berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi SDM, khususnya di wilayah Klaten. (Zia/Cecep)