Berkat Inovasi Politeknik Negeri Bali, Warga Desa Kubu Tak Sulit Lagi Memintal Kapas
Denpasar, Ditjen Vokasi - Kemitraan yang erat antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi vokasi diyakini akan mampu melahirkan berbagai inovasi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi daerah. Salah satunya kolaborasi harmonis antara Politeknik Negeri Bali (PNB) dengan pemerintah daerah dan desa-desa mitra yang berhasil melahirkan berbagai inovasi teknologi tepat guna untuk menyelesaikan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat.
Salah satu inovasi tepat guna buah dari kolaborasi tersebut adalah alat pemisah biji kapas dan mesin pemintal kapas. Kedua teknologi tepat guna yang diciptakan oleh dosen dan mahasiswa PNB tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh warga di Desa Kubu, Karangasem, Bali. Berkat alat tersebut, masyarakat Desa Kubu menjadi lebih produktif dan efisien dalam bekerja mengolah kapas yang menjadi salah satu potensi daerah mereka.
Pengembangan teknologi tepat guna untuk memisahkan biji kapas dan memintal kapas tersebut dirancang oleh dosen Teknik Mesin PNB, Anom Adiaksa dan beberapa mahasiswanya. Seperti namanya alat ini berfungsi untuk memisahkan biji kapas sebelum kapas tersebut dipintal menjadi benang.
“Sebelum ada alat ini, warga desa memisahkan biji kapas ini secara manual dengan tangan. Memakan waktu sangat lama dan sangat tidak efisien,” kata Anom.
Pekerjaan memecah biji kapan, lanjut Anom, bukan pekerjaan mudah. Pasalnya biji kapas ini relatif kecil sehingga benar-benar diperlukan ketelitian dalam pengerjaannya.
“Bisa sampai berjam-jam bahkan berhari-hari untuk proses pemisahan ini,” ujar Anom.
Masih menurut Anom, ide pembuatan alat tersebut berasal dari masyarakat Desa Kubu melalui pemerintah daerah setempat yang menginginkan adanya teknologi tepat guna untuk membantu proses pengerjaan yang dilakukan warga menjadi lebih efektif.
Desa Kubu memang tergolong desa yang cukup gersang untuk lahan pertanian. Oleh pemerintah setempat, warga desa yang umumnya petani kemudian diberi bibit tanaman kapas untuk ditanam. Warga kemudian mengelola hasil dari tanaman kapas tersebut menjadi benang untuk membuat kain, menenun, dan sebagainya. Tidak hanya menciptakan alat pemisah biji kapas, Anom yang juga kepala laboratorium teknik ini juga membuat mesin pemintal kapas yang sangat diperlukan warga.
Seperti halnya pemisah biji kapas yang masih manual, proses pemintalan kapas di Desa Kubu juga masih dilakukan secara manual dengan menggunakan teknologi pemintalan sederhana. Untuk sepuluh kilogram kapas saja, mereka memerlukan waktu hampir delapan jam.
“Dengan alat yang kami kembangkan ini, proses pemintalan kapas hanya memerlukan waktu tiga jam saja untuk 10 kilogram kapas,” Anom menambahkan.
Sebelumnya alat pemintal kapas ini sempat mengalami beberapa perbaikan. Utamanya untuk mengatur tingkat kecepatan pemintalan kapas sesuai yang diinginkan oleh warga sebagai pengguna.
“Jadi, kami benar-benar merespons apa yang ingin dan diperlukan oleh warga. Teknologinya akan kami persiapkan,” kata Anom. (Nan/Cecep)