Logo

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi
(Ditjen Vokasi).

Jl. Jenderal Sudirman Gedung E Lantai III Senayan, Jakarta 10270
vokasi@kemdikbud.go.id

Lihat di Google Maps
Profil Kami
Berita
Gulir Ke Bawah
Cari

Pendidikan Soft Skill dan Karakter Wujudkan Ekosistem Entrepreneur

18 September 2020 06:25:00Kategori : Berita   Setditjen Diksi
Pendidikan Soft Skill dan Karakter Wujudkan Ekosistem Entrepreneur
Pendidikan Soft Skill dan Karakter Wujudkan Ekosistem Entrepreneur
Pendidikan Soft Skill dan Karakter Wujudkan Ekosistem Entrepreneur
Pendidikan Soft Skill dan Karakter Wujudkan Ekosistem Entrepreneur

Jakarta, Ditjen Diksi – Kemajuan Indonesia tak pernah luput dari sumbangsih usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menciptakan stabilitas perekonomian Indonesia. Hal inilah yang kemudian mendasari pentingnya pendidikan karakter entrepreneurship di jenjang pendidikan sekolah dasar hingga pendidikan tinggi di Indonesia. Demikian juga dengan langkah yang dilakukan oleh Kemendikbud yang kini menggiatkan program pendidikan karakter dan soft skill untuk lebih difokuskan pada kurikulum.

Wikan Sakarinto selaku Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi menegaskan, pendidikan soft skill dan karakter memiliki peran yang sama pentingnya dengan kompetensi siswa dalam bidang hard skill. “Keterampilan dan kompetensi itu harus dalam karena pasti akan dicari sampai ujung dunia. Kita saat ini sedang menyusun kurikulum untuk SMK, dan vokasi ini lebih agile, fleksibel, dan adaptif dalam menghadapi perubahan dunia kerja,” ujarnya dalam talk show yang digelar oleh Jakarta Marketing Week (JMW) mengenai “Seize the Normal Momentum” pada Rabu (17/09). 

Wikan mengungkapkan, kebutuhan pendidikan karakter memang seharusnya sudah didapatkan oleh siswa sejak menginjak sekolah dasar. “Seharusnya memang sejak kecil itu sudah ada mindset entrepreneur, soft skill, dan keberanian dalam mengambil risiko. Sehingga, kalau nanti sampai ke pendidikan tinggi, mindset-nya sudah lebih siap, tinggal mengisi di inovasi dan kompetensinya,” paparnya.

Kebutuhan akan pendidikan soft skill ini, diakui Wikan sebagai salah satu hal yang akan menjawab tantangan di masa depan akan kebutuhan industri maupun tumbuhnya ekosistem entrepreneur yang baik di Indonesia. Pasalnya, industri kini tidak lagi melihat nilai ijazah sebagai sebuah patokan penyerapan tenaga kerja yang dibutuhkan. “Di industri itu sebenarnya yang dibutuhkan bukan ijazah, akan tetapi kompetensi dan karakter. Bukan kita berikan apa yang diminta, tapi kita berikan apa yang lebih baik dari yang diminta. Namun, kadang-kadang anak-anak kita masih IPK minded,” ungkapnya. 

Wikan pun berharap, dalam program “link and match” yang kini digiatkan, tenaga pengajar dapat terus melakukan up-skilling dan re-skilling dengan dukungan dari pihak industri. “Sehingga, yang mengajar itu bukan hanya guru-guru, tetapi kita juga menghadirkan profesional dari industri,” jelasnya.

Sepakat dengan Wikan, Nizam selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi menjelaskan pentingnya membangun ekosistem entrepreneur secara bersama dengan industri. Hal ini menjadi penting dikarenakan untuk menciptakan ekonomi yang maju, Indonesia membutuhkan minimal 15 persen masyarakatnya memiliki ekosistem yang baik dalam bidang entrepeneurship. “Ekosistem inilah yang diharapkan oleh Mas Menteri melalui perkawinan dengan dunia industri dan dunia kerja yang mengistilahkan kampus kehidupan harus dikawinkan dengan kampus konvensional, baik akademik maupun vokasi. Jadi, anak-anak mahasiswa itu sudah belajar kampus kehidupan ketika belajar di kampus yang berdinding dan bertembok, harus bersama sama sehingga tidak ada lagi missing link, broken link,” paparnya.

Adapun Adjie Watono sebagai perwakilan dari pihak industri yang juga merupakan seorang entrepreneur menjelaskan, karakter kuat dengan passion, komitmen, kerja keras, dan fokus dalam berkarya merupakan kunci menjadi entrepreneur yang sukses. Bermula dengan kompetensinya dalam bidang fotografi, kini Adjie memiliki perusahan yang bergerak di bidang digital advertising dengan 16 anak perusahaan di dalamnya. “Saya bisa sampai saat ini karena mau belajar. Kalau guru-gurunya tidak mau belajar, ya tidak bisa. Saya lulusan fotografi, tapi saya belajar marketing, advertising. Makanya, saya bisa,” ujarnya. 

Karenanya, Adjie pun berpesan kepada generasi muda agar terus mendalami kompetensi yang dimilikinya. Adapun untuk mengiringi proses tersebut, membutuhkan soft skill untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan jeli dalam melihat opportunity. “Passion saja itu not enough. Prove beyond the expectation, improve all the time, dan jangan malu kalau ditolak. Kalau ada opportunity berani diambil, karena opportunity only come one time,” pungkasnya. (Diksi/TM/AP)

Komentar ( 0 )
Beri Komentar

01.