Logo

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi
(Ditjen Vokasi).

Jl. Jenderal Sudirman Gedung E Lantai III Senayan, Jakarta 10270
vokasi@kemdikbud.go.id

Lihat di Google Maps
Profil Kami
Berita
Gulir Ke Bawah
Cari

Passion dan Berkarakter Bangun SDM Kompeten

21 September 2020 02:06:00Kategori : Berita   Setditjen Diksi
Passion dan Berkarakter Bangun SDM Kompeten
Passion dan Berkarakter Bangun SDM Kompeten
Passion dan Berkarakter Bangun SDM Kompeten
Passion dan Berkarakter Bangun SDM Kompeten

Jakarta, Ditjen Diksi – Kesuksesan seseorang sejatinya bukan hanya mengandalkan ijazah semata. Namun, kompetensi, yakni “aku bisa apa”, bukan sekadar “aku sudah belajar apa”. 

“Tren industri di Indonesia saat ini, yaitu dari industri sebetulnya yang dibutuhkan bukan hanya ijazah, tetapi kompetensi serta karakter,” terang Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto pada acara Jakarta Marketing Week yang diselenggarakan MarkPlus, Inc. secara virtual (17/9).

Wikan menjelaskan bahwa untuk membangun kompetensi tersebut perlu didasari oleh passion. Pasalnya, terkadang peserta didik sekarang itu masih “IPK minded”. Padahal, yang turut membuat sukses di masa depan adalah karakter atau soft skill. Misalnya, sifat pantang menyerah, karakter untuk do the best, kemampuan komunikasi, leadership, kemampuan bekerja dalam tim, serta keberanian mengambil risiko.

Selain itu, Wikan turut menjelaskan faktor-faktor lainnya untuk membangun siswa dan mahasiswa yang kompeten. Pertama, menyusun kurikulum di pendidikan vokasi dengan lebih agile, fleksibel, dan adaptif terhadap perubahan dunia industri dan dunia kerja.

Kedua, perlu mengubah mindset guru dan dosen sehingga pembelajaran tidak lagi kaku dan menggunakan pembelajaran project based learning dari industri riil yang dibawa ke kelas. Guru dituntut untuk tidak hanya mengajarkan, tetapi menjadi coach, mentor, dan fasilitator. “Guru-guru pun harus magang sekitar tiga atau empat tahun sekali selama satu semester di industri,” imbuhnya.

Kemudian dua puluh persen waktu mengajar di SMK atau di perguruan tinggi itu harus menghadirkan guru-guru praktisi profesional dari industri. Tidak perlu gelarnya yang tinggi-tinggi, tetapi yang memang benar-benar kompeten.

Wikan menambahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi sedang merancang kebijakan yang akan mendorong minimal lima puluh hingga seratus jam belajar untuk diajar oleh dosen atau guru praktisi. “Sehingga, yang ngajar itu tidak hanya guru atau dosen yang ada di dalam, tetapi kita benar-benar menghadirkan yang dari luar itu masuk ke dalam,” ujarnya.

Senada dengan Wikan, Chairman of Dentsu Aegis Network Indonesia Adji Watono menyebutkan, passion itu penting, tapi juga harus didukung oleh komitmen pada diri sendiri dan mencintai apa yang dilakukan. “Passion is not enough, tetapi juga harus membuktikan apa yang bisa dilakukan,” tuturnya.

Adapun Hermawan Kartajaya selaku Founder and Chairman MarkPlus Inc. mengatakan, sukses bukan hanya bergantung pada ijazah, tapi hasilnya. “Seperti pengalaman Adji yang hanya lulusan D3 dan sekarang menjadi chairman advertising terbesar kedua di Indonesia dan terbesar ketiga di dunia, membuktikan bahwa perusahaan multinasional yang dilihat utamanya itu bukan ijazah, tetapi hasilnya,” ujar Hemawan. (Diksi/RA/AP)

Komentar ( 0 )
Beri Komentar

01.