Logo

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi
(Ditjen Vokasi).

Jl. Jenderal Sudirman Gedung E Lantai III Senayan, Jakarta 10270
vokasi@kemdikbud.go.id

Lihat di Google Maps
Profil Kami
Berita
Gulir Ke Bawah
Cari

Menikah, Linda Berangkatkan Anak ke Jepang

23 Maret 2021 08:00:00Kategori : Berita   Setditjen Diksi
Menikah, Linda Berangkatkan Anak ke Jepang
Menikah, Linda Berangkatkan Anak ke Jepang
Menikah, Linda Berangkatkan Anak ke Jepang
Menikah, Linda Berangkatkan Anak ke Jepang
Menikah, Linda Berangkatkan Anak ke Jepang

Demak, Ditjen Diksi – "MoU itu tidak boleh tidur, layaknya pasangan setelah menikah mereka harus komitmen membina hubungannya dengan sungguh-sungguh dan akhirnya menghasilkan keturunan". Analogi tentang pernikahan dari Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Wikan Sakarinto inilah yang berhasil diwujudkan oleh LKP Linda Mandiri. Sederet kerja sama dengan industri lokal dan internasional berhasil dilakukan LKP yang memberikan kursus keterampilan teknik las di Demak, Jawa Tengah ini sehingga membuahkan hasil peserta didik yang diserap oleh industri.

Menurut Direktur LKP Linda Mandiri Ahmad Kozin, pihaknya rutin mengirim peserta didik untuk bekerja di Jepang. Bahkan, “Di 2021 ini saat pandemik perlahan mereda, Januari kemarin kami sudah mulai mengirim 1 orang ke NT-Matex dari target 3 orang yang akan diberangkatkan. Industri di Jepang sangat membutuhkan pekerja yang memiliki keterampilan las,” tuturnya.

Ahmad berkisah, perusahaan Jepang tersebut datang langsung ke Demak untuk menyeleksi calon pekerjanya. Ketika sesuai dengan kriteria mereka, semua biaya ditanggung oleh perusahaan. “Jadi, si anak tidak perlu mengeluarkan kocek sendiri. Apalagi, harus mencari pinjaman,” terangnya.

Menurutnya, gaji yang diberikan oleh perusahaan Jepang tersebut juga cukup wah, sebulan bisa mendapatkan Rp40 juta. Bahkan, untuk level tertentu bisa dihargai Rp60 juta per bulan. Bukannya mengapa, teknik mengelas memang memiliki level atau tingkat kesulitan yang hanya dimiliki orang orang yang terlatih. Sehingga, tak heran kompetensi ini berani dihargai mahal oleh perusahaan luar negeri.

Tujuh Level

Di LKP Linda Mandiri, program kursus las dibagi menjadi 7 tingkat, yaitu level dasar, lalu level 1-6G. Masing-masing tingkatan membutuhkan jam pelatihan yang berbeda. “Untuk level dasar dan 1G membutuhkan 80 jam, sedangkan untuk level lainnya berkisar 100 jam,” ujar Kozin.

Adapun kesulitan tertinggi dalam pekerjaan mengelas adalah di dalam air. Meski industri perminyakan sangat membutuhkan tenaga ini, sayangnya membutuhkan sarana yang cukup mahal. Alhasil, LKP Mandiri belum membuka kelas ini. “Ke depan, tentunya kami berupaya untuk mewujudkan hal tersebut,” harap Kozin.

Selain itu, pada 2020 lalu LKP Linda Mandiri telah mengadakan program Pendidikan Kecakapan Kewirausahaan (PKW) bagi 20 peserta. Program PKW adalah layanan pendidikan melalui kursus dan pelatihan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan menumbuhkan sikap mental wirausaha dalam mengelola potensi diri dan lingkungan yang dapat dijadikan bekal untuk berwirausaha.

Pada program tersebut, seleksi peserta dilakukan dengan tes tertulis untuk mengukur kemampuan dasar las, lalu dilanjutkan tahap wawancara untuk memastikan komitmennya. Adapun pendidikan dilaksanakan selama 40 hari berdurasi total 200 jam dengan jeda hari Minggu. Namun sayangnya, pada 2021 LKP ini tidak meyelenggarakan program PKW karena fokus memperbesar bengkel praktik kerja.

Sedangkan untuk kerja sama dengan industri lokal, LKP Linda Mandiri telah menjalin kesepakatan dengan PT Rimba Wana Agung, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perkayuan. "Pasti agak aneh ya, perusahaan kayu, tapi butuh tukang las," tutur Kozin.

Menurut Kozin, ternyata mesin dan alat-alat perkayuan memiliki komponen metal yang membutuhkan las untuk membuat atau memperbaiki alat jika bermasalah. Kerja sama yang dilakukan juga bukan hanya komitmen untuk menarik pekerja, namun para teknisi PT Rimba Wana Agung secara reguler mengajar di LKP.

Kozin menjelaskan, para teknisi tersebut datang untuk memperkenalkan mesin-mesin yang dipakai di perusahaan kayu, dan juga menjelaskan kompetensi apa yang bisa mereka kontribusikan di perusahaan. Sehingga, ketika peserta didik LKP bekerja sudah familiar dengan alat-alat produksi yang ada. “Ke depannya, saya harapkan dapat mengembangkan LKP ini menjadi lebih besar, mengingat keterserapan DUDI cukup tinggi,” pungkasnya. (Diksi/GS/AP)

Komentar ( 0 )
Beri Komentar

01.