Berkah Idulfitri, Alumnus Kursus Menjahit Ini Kebanjiran Order Pembuatan Baju Lebaran
Tulungagung, Ditjen Vokasi - Tradisi mengenakan baju baru saat Hari Raya Idulfitri menjadi momen yang dinantikan banyak orang. Inilah peluang besar bagi Nur Aysiamey Lusianasari atau biasa disapa Nana. Alumnus kursus menjahit dari Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Ayu Busono, Tulungagung, Jawa Timur.
Melalui program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) 2017, Nana mengasah keterampilan dan berpengalaman bekerja di berbagai konveksi. Hingga akhirnya, ia berhasil merintis usaha sendiri yaitu Aysiamey Dresses yang sudah berjalan sejak 2018.
“Saya sudah buka slot jahit orderan baju lebaran sebelum Ramadan. Alhamdulilah banyak yang jahit,” ujar Nana.
Nana bercerita, pada awalnya ia menerima orderan dari keluarga dan tetangga sekitar. Berkat marketing dari mulut ke mulut serta pemasaran via Instagram, hasil jahitannya semakin terkenal. Banyak orderan di luar kecamatannya yang juga percaya pada kualitas menjahit Nana.
Dalam satu bulan terakhir, ia mengaku telah menerima puluhan pesanan baju Lebaran dari berbagai model, mulai dari gamis, baju koko, hingga setelan keluarga. Berkat momen lebaran ini, ia bisa mendapatkan omzet lebih dari Rp7 juta rupiah.
“Alhamdulillah, tahun ini pesanan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Banyak pelanggan yang ingin tampil serasi dengan keluarganya di Hari Raya, jadi mereka memesan satu set pakaian untuk seluruh anggota keluarga,” katanya.
Strategi Banjir Orderan
Walaupun kebanjiran orderan, hal ini tak membuat Nana menutup mata untuk membuat strategi yang tepat. Ia pun merekrut penjahit lepas untuk mengatasi lonjakan pesanan dan membantunya menyelesaikan pakaian tepat waktu. Selain itu, ia menerima pesanan secara online dan mempromosikan hasil karyanya melalui media sosial.
“Ada dua sampai tiga penjahit yang membantu saya dalam membuat orderan. Mereka pun sudah kompeten sehingga baju tetap memiliki kualitas yang baik,” tutur Nana.
Namun, perjalanan usahanya tidak tanpa tantangan. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan waktu untuk menyelesaikan pesanan. Oleh karena itu, ia selalu membatasi jumlah pesanan untuk menjaga kualitas jahitan.
“Kalau saya sudah berhenti menjahit di 5 hari menjelang lebaran agar teman-teman yang lain pun bisa ikut mempersiapkan hari rayanya juga,” jelas Nana. (Zia/Dani)